Anita

Anita Sumadi,M.Pd. Pernah belajar di SDN Penambongan 1, SMPN 1 Purbalingga, SMUN 1 Purbalingga. Pernah kuliah di STAINU Kebumen, dan IAIN Purwokerto. Suka memba...

Selengkapnya

Komandan, Pak Boss, Kepala Sekolah- Kepala Sekolahku yang Kucinta

Komandan, Pak Boss,

Kepala Sekolah- Kepala Sekolahku yang Kucinta

Kurang lebih lima tahun yang lalu aku tidak sanggup menahan air mata. Entah haru entah sedih, bahkan aku tidak mengerti perasaan apakah yang berkecamuk di dalam relung hatiku. Yang jelas untuk mendekat bersama mereka saja, ikut berfoto bersama, sebagai tanda perpisahan dan menyambut selamat datang, aku tidak cukup punya nyali. Kutahan dan kubendung air mataku tetapi tetap saja merembes membasahi mataku. Pedas rasanya. Seorang sahabat mendatangiku saat itu, kupikir akan menghiburku. Ternyata dia memelukku dengan erat lalu matanya pun mulai sembab. Ternyata dia pun menangis.

Hari berganti hari, hingga tahun demi tahun berlalu, kupikir aku akan dapat melupakannya. Ternyata kenangan itu semakin membekas menghiasi hatiku. Dan aku tidak pernah menyesali air mata itu. Hingga pada akhirnya kuambil kesimpulan, tidak ada seorang atasan yang begitu memotivasi anak buahnya untuk belajar dan terus belajar, untuk kuliah dan terus kuliah, untuk berkarir dengan sebaik-baiknya, kecuali dia seorang ayah yang menginginkan anaknya maju. Tulus hatinya terpancar dari tutur kata yang bersahaja, langka tetapi mengena.

Masih jelas dalam ingatanku, saat awal berkenalan melalui telepon, dia mengatakan bahwa MI Negeri itu akan berstandar nasional. Dengan nada bercanda namun serius aku menjawab “ Loh...bukannya yang namanya madrasah itu standarnya sudah dunia akhirat ya Pak?” . Sepertinya dia tersenyum mendengar kata-kataku yang terkesan ngawur. Setelah itu aku putuskan untuk memanggilnya “Komandan”, dan dalam kontak ponselku sampai sekarang masih tertulis “Mashadi Komandan”.

Benar kata orang, tidak ada manusia yang sempurna. Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan. Memuji dan mencela itu sudah biasa. Tetapi setidaknya, aku merasa nyaman di bawah kepemimpinannya. Dan akhirnya aku mengerti, mengapa aku menangis hari itu.

Lalu, panggilan apa yang pantas untuk kepala sekolahku yang baru. Masih muda, lahir 1976. Energik, disiplin, tetapi sangat supel. Sepatah pertanyaan atau instruksinya cukup membuatku bersemangat melakukan tugas dan pekerjaanku. Apalagi jabat tangan dan senyumnya yang penuh motivasi. Pernah suatu ketika, Pak Pengawas SD datang monitoring, dan keduanya duduk bersebelahan, berbicara dengan santai. Saat kutulis NIP mereka, aku tersenyum sendiri. Antara 1976 dan 1967, lebih muda yang mana dan lebih tua yang mana. Yang jelas mereka sama-sama muda dan energik.

Namun demikian pernah sekali dua kali hati ini terluka. Ada satu dua keputusannya membuatku kecewa. Karena begitu kecewanya, sempat aku berpikir bahwa panggilan “Pak Boss” sudah tidak pas lagi untuknya. Terlalu bagus kupikir. Tetapi keputusan-keputusannya yang lain, penjelasan-penjelasannya yang lain, yang bahkan tidak diungkapkannya dengan terang-terangan, cukup mampu mengikis keraguanku, dan cukup mampu menenangkan hatiku.

Benar kata orang, tidak ada manusia yang sempurna. Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Memuji dan mencela itu sudah biasa. Tetapi di bawah kepemimpinan Sudiono Pak Boss, aku belajar banyak tentang semangat, tentang survive menghadapi masalah, belajar untuk menyesuaikan dengan yang berbeda, belajar menerima dan mengikuti perubahan, belajar muhasabah. Orang yang paling cerdas adalah orang yang paling pandai bermuhasabah. Begitu yang disampaikannya dalam rapat, pernah dahulu sekali, dan pernah bahkan baru kemarin.

Malam itu aku mimpi. Aku bermimpi sedang menyapu lantai, entah lantai balai desa entah lantai rumah sakit, entah lantai sekolah, entah lantai rumahku sendiri. Begitu kuangkat dan kugerakkan sapu itu, ternyata gagangnya hampir lepas. Aku terbangun, dan kulihat jam menunjukkan pukul 3 pagi. Tidak kuhiraukan mimpiku, karena aku memang tidak bisa menafsirkan mimpi. Untuk menenangkan diriku sendiri, aku tetap berprasangka baik. Mungkin rencanaku bangun pagi dan menyapu pagi-pagi terbawa sampai mimpi.

Jika benar saat berpisah itu kembali datang. Bolehkah aku mengambil hikmah dari yang terjadi. Bolehkah aku mengenang hari-hari indah penuh suka dan duka bersama mereka. Lalu bagaimana yang menggantikan. Akankah sama bisa memotivasi, akankah sama bisa menjadi tempat bertanya yanng selalu punya jawaban saat aku kebingungan. Akankah sama bisa menenangkan dan memberikan solusi saat aku panik dan ketakutan menghadapi masalah. Lalu berapa lama waktu yang kubutuhkan untuk beradaptasi, untuk memahami visinya. Panggilan apa yang cocok untuknya. Allahu rabb, aku hanya bisa berharap, semua akan baik-baik saja.

Anita Sumadi, Media Guru, Des-2017

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Ah indahnya ketulusan,,,mantap bu,,,

04 Dec
Balas

Tulisannya tulus. Cucuran hati seorang guru. Mantap bu.

04 Dec
Balas

Trmksh Pak..

04 Dec

Trmksh Buu..

04 Dec
Balas

Trmksh Buu...

04 Dec
Balas

Tulisan yang sangat cantik secantik hati penulisnya.

04 Dec
Balas

SubkhanAllah, bahasa mendasar, hanya relung hati yg bisa berbahasa ini. Setiap kejadian Allah siapkan pembelajaran baru. Semangat...

04 Dec
Balas

Trmksh Pak Yuli..

04 Dec

Dahsyaaat...

04 Dec
Balas

Trmksh Mba Tri..

05 Dec

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali